Jumat, 20 November 2015

SUNSHINE BECOME YOU - BAB 8

  “OH, celaka!” Mia terkesiap kaget ketika mengeluarkan ponsel dari tasnya. Alex Hirano sudah mencoba menghubunginya berkali-kali, tetapi Mia tidak menyadari karena ponselnya berada di dalam tasnya yang ditinggalkan di kursi penonton. Ia bergegas mengenakan celana jins dan sepatu, lalu berpamitan kepada guru tarinya.

             Laki-laki itu pasti marah besar, pikir Mia cemas dan cepat-cepat menelepon Alex Hirano. Mia berlari-lari kecil menyusuri koridor di antara deretan kursi penonton ke arah pintu keluar.

             Pada deringan kedua, suara Alex Hirano pun terdengar di ujung sana. “Clark? Kenapa kau tidak menjawab teleponku?”

             Mia mengernyit. “Maaf,” katanya cepat. “Aku tidak mendengar bunyi telepon.”

             “Apakah kau tahu sudah berapa lama aku menunggu?”

             “Maaf,” ulang Mia. “Kau ada di mana sekarang? Aku akan segera ke sana.”

             “Berhenti,” kata Alex Hirano tiba-tiba.

             Mia otomatis berhenti melangkah walaupun ia tidak mengerti apa yang dimaksud laki-laki itu. “Apa?”

             “Ya, berhenti seperti itu,” kata Alex. “Sekarang berputar ke kiri.”

             Mia menuruti kata-kata Alex Hirano.

             Dan mata Mia melebar kaget ketika melihat Alex Hirano duduk beberapa kursi jauhnya dari tempatnya berdiri. Laki-laki itu tersenyum kecil kepadanya sambil menurunkan ponsel dari telinga.

             Mia mengerjap heran. Pertama, karena Alex Hirano tersenyum. Laki-laki itu belum pernah tersenyum kepadanya selama Mia mengenalnya. Alex memang sering tersenyum hambar dan sinis, tetapi itu tidak bisa dihitung sebagai ‘senyuman’, bukan? Kedua, karena Alex Hirano ada di sana. Mia tidak tahu mana yang lebih mengherankan baginya.

             “Kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Mia sambil menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah-olah mencari seseorang yang bisa menjelaskan kenapa Alex Hirano ada di sana, lalu kembali menatap laki-laki itu. “Sudah berapa lama kau di sini?”

             Alex Hirano memasukkan ponselnya ke saku celana dan berkata ringan, “Omong-omong, kau sudah boleh menurunkan ponselmu.”

             Mia tersentak dan menyadari ponselnya masih ditempelkan ke telinga. Ia buru-buru memasukkan kembali ke dalam tas. Ia baru ingin mengulangi pertanyaannya ketika Alex menyelanya.

             “Jadi itu yang dinamakan tari kontemporer,” gumam Alex sambil memandang ke arah panggung, tempat para penari sibuk berlatih.

             Mia tidak tahu apakah Alex Hirano sedang membicarakannya atau para penari di panggung itu. Apakah laki-laki itu melihatnya menari tadi?

             “Aku tidak menyangka kau mendengarkan lagu-lagu Italia,” lanjut Alex sambil kembali menoleh ke arah Mia.

             Oh ya, laki-laki itu sudah ada di sini ketika Mia menari tadi.

             Mia mengangkat bahu dan membalas, “Aku bahkan tidak menyangka kau tahu lagu itu lagu Italia.”

             Alex Hirano menatap Mia dengan mata disipitkan, tetapi kali ini Mia tidak merasa ingin mundur secara teratur. Tatapan Alex kali ini bukan tatapan dingin dan bermusuhan. Dan omong-omong, Alex juga tidak marah-marah karena tidak bisa menghubungi Mia dan terpaksa harus menunggu. Mengherankan sekali.

             “Aku ini musisi,” sahut Alex dengan sebersit nada angkuh dalam suaranya. “Tentu saja aku tahu semua jenis lagu dan musik.”

             Mia ingin membalas bahwa bukan musisi saja yang perlu tahu tentang musik. Penari juga perlu. Tetapi saat itu Alex berdiri dari tempat duduknya dan melangkah keluar dari deretan kursi penonton, jadi Mia mengurungkan niatnya dan menyingkir sedikit untuk memberi jalan.

             Alex keluar dari teater dan Mia mengikutinya dari belakang. “Jadi kau sudah bertemu dengan gurumu?” tanya Mia berbasa-basi sambil mengenakan jaket luarnya.

             Alex mengangguk. “Sudah.”

             “Gurumu masih ingat padamu?”

             “Tentu saja,” sahut Alex dengan nada tersinggung, seolah-olah semua orang di Juilliard pasti tahu siapa dirinya.

             Mia tidak berkomentar.

             Alex ragu sejenak, lalu akhirnya bertanya,”Yang tadi itu guru tarimu?”

             Mia melirik Alex. Sungguh, laki-laki itu agak berbeda hari ini. Ia mengajaknya mengobrol, padahal biasanya ia hanya akan bicara dengan kalimat pendek dan seperlunya. Sepertinya suasana hati Alex Hirano sedang baik hari ini.

             “Ya,” sahut Mia singkat. “Salah satunya.”

             “Dia sangat memujimu tadi.”

             “Benarkah?” gumam Mia sambil lalu.

             Alex menoleh menatapnya. “Katanya kau salah satu penari terbaiknya.”

             “Oh ya?” Mia mengangkat bahu. “Banyak penari lain yang lebih baik dariku. Omong-omong, kau mau pergi ke mana sekarang? Pulang? Bagaimana kalau kau tunggu di pintu depan dan aku akan pergi mengambil mobil...”

             Alex menggeleng dan menyela, “Aku belum ingin pulang.”

             “Oh? Lalu kau mau pergi ke mana?”

             Alex berpikir sejenak. Lalu sekali lagi seulas senyum samar tersungging di bibirnya dan ia berkata, “Toko musik.”


***

             Mia mengenakan salah satu headphone  yang tersedia dan mulai memilih lagu yang ingin didengarnya. Ini yang pertama kali dilakukannya setiap kali ia mengunjungi toko musik, memanfaatkan fasilitas mendengar lagu-lagu gratis sebelum memutuskan apa yang ingin dibelinya. Alex Hirano sudah pergi ke bagian musik klasik, jadi Mia bisa bersantai sendiri untuk sementara.

             Sebenarnya suasana hati Alex Hirano yang sedang baik perlahan-perlahan mencairkan ketegangan yang selalu Mia rasakan setiap kali berada di dekat laki-laki itu. Tidak, mereka belum bisa disebut teman, tetapi setidaknya untuk saat ini Alex Hirano sepertinya tidak membenci Mia karena membuat tangannya cedera. Itu kemajuan yang berarti. Kalau mengobrol beberapa jam dengan guru pianonya bisa membuat Alex Hirano berubah sedikit lebih menyenangkan seperti ini, Mia bersedia mengantarnya menemui gurunya setiap hari.

             Mia tidak tahu sudah berapa lama ia berdiri di sana dan mendengarkan lagu, tetapi ia sama sekali tidak menyadari Alex Hirano sudah berdiri di sampingnya sampai tanpa sengaja menoleh dan melihat laki-laki itu. Mia tersentak dan melepaskan headphone. “Kau sudah selesai?” tanyanya sambil melirik beberapa keping CD yang ada di tangan kanan laki-laki itu.

             “Apa yang sedang kaudengarkan?” Alex balas bertanya. Ia memperhatikan CD yang terlihat berputar di dalam kotak kaca. “L’Aura?”

             Mia mengangguk. “Irraggiungibile,” katanya, menyebutkan judul lagu yang sedang didengarnya.

             “Kalau kau suka lagu Italia...” Alex memperhatikan deretan CD yang tersedia untuk didengarkan. “Kau sudah pernah mendengar lagunya Elisa?”

             “Dancing?” tanya Mia.

             “Selain itu?” kata Alex.

             Mia menggeleng.

             “Kalau begitu, coba dengarkan yang ini,” kata Alex sambil menekan tombol untuk menjalankan CD yang dipilhnya. “Kenakan headphone-mu.”

             “Lagu apa ini?” tanya Mia dan mengenakan headphone-nya kembali.

             “Eppure Sentire.

             Mia tidak tahu artinya, tetapi judul itu terdengar bagus ketika Alex menyebutkannya. Mia memenjamkan mata dan mendengar alunan musik di telinganya, lalu perlahan-lahan seulas senyum tersungging di bibirnya. Lagu itu sangat lembut dan sangat bagus. Lagu itu berhasil menyusup ke dalam jiwanya, membuat bulu kuduknya meremang dan membuat dirinya seolah-olah melayang. Gerakan-gerakan tari mulai terbentuk secara otomatis dalam kepala Mia. Oh, lagu ini bagus! Ia bisa menari dengan lagu ini.

             Setelah lagu berhenti, Mia mendongak dan tersenyum senang pada Alex. “Aku harus mencari lagu ini,” katanya dengan penuh semangat dan mata berkilat-kilat. “Lagu ini sangat bagus. Kau memang genius. Terima kasih banyak.”

             Dan ia tersenyum lebar kepada Alex.

             Alex tertegun, sadar bahwa itu senyum pertama yang dilemparkan Mia Clark kepadanya. Ia merasa aneh. Gadis itu memang sering tersenyum. Kepada Ray, kepada Karl, kepada semua orang. Tetapi tidak pernah kepada Alex. Tentu saja Alex tahu, itu karena ia sendiri tidak pernah memberi Mia alasan untuk tersenyum padanya. Kenapa harus? Kenapa kau ingin malaikat kegelapanmu tersenyum padamu?

             Tetapi sekarang setelah melihat bagaimana gadis itu tersenyum kepadanya, Alex harus mengakui bahwa ia tidak pernah tahu ada malaikat kegelapan yang bisa tersenyum seperti itu.

             Mia menoleh ke kiri dan ke kanan. “Aku harus mencari... Oh, halo.” Ia mencegat salah seorang pegawai toko musik yang kebetulan berjalan melewatinya. “Kuharap kau tidak keberatan membantuku,” kata Mia sambil tersenyum.

             “Tentu saja tidak,” sahut pemuda jangkung yang mengenakan kaus bertuliskan nama toko musik itu sambil tersenyum lebar.

             “Aku ingin mencari CD ini,” kata Mia sambil menunjuk CD Elisa di dalam kotak kaca. “Di mana aku bisa menemukannya?”

             “Ah, Elisa? Di sebelah sini. Ayo, kuantar.”

             “Terima kasih. Kau baik sekali.”

             Mereka berdua pergi sambil bercakap-cakap, meninggalkan Alex sendiri. Alex mendesah dan menggeleng-geleng. Ia mengenakan headphone  yang dilepaskan Mia tadi dan mulai mendengarkan lagu sementara menunggu.

             Lima belas menit berlalu dan gadis itu belum kembali. Alex melepaskan headphone  dan pergi mencari gadis itu. Ia berhasil menemukan gadis itu, tetapi bukan di tempat mereka memajang album Elisa seperti yang diduganya. Ia mendapati gadis itu sedang mengobrol dengan pegawai tadi di bagian CD instrumental.

             Mia melihat ketika Alex mendekat. Mata gadis itu berkilat-kilat senang ketika ia berkata, “Lihat apa yang ditemukan Dylan untukku.”

             “Dylan?” Alex melirik pin yang terpasang di bagian dada si pegawai toko. Namanya Dylan. Ia mengalihkan perhatiannya kembali pada Mia yang mengacungkan sebuah CD. “Apa itu?” tanya Alex.

             “Albummu,” sahut Mia Clark sambil tersenyum lebar. “Aku bertanya pada Dylan apakah mereka punya albummu dan ternyata mereka punya. Aku akan membeli satu karena aku belum pernah mendengar lagumu.”

             Alex mendengus pelan. Ia ingin berkata bahwa ia bisa memberikan CD-nya secara gratis kalau gadis itu mau, tetapi mengurungkan niatnya. Sebaliknya ia bertanya, “Memangnya kau mendengarkan lagu instrumental juga?”

             “Tentu saja.”

             Saat itu Dylan menatap Alex dan mengerjap. “Oh, jadi kau Alex Hirano?”

             Alex menatapnya tanpa ekspesi. “Ya.”

             “Wow, keren! Aku juga punya albummu. Boleh minta tanda tangan?” tanya Dylan kagum. Lalu matanya beralih ke tangan Alex yang dibebat dan tergantung di depan dada. “Tapi tanganmu kenapa?”

             Alex melirik Mia yang diam saja. Ia kembali menatap Dylan dan menjawab, “Kecelakaan.” Rasanya tidak perlu menjelaskan panjang-lebar kepada pegawai toko. “Kau bilang kau menginginkan tanda tanganku?”

             “Ah, benar. Maaf, boleh tunggu sebentar? Aku akan mengambil CD-ku.”

             Sepeninggal Dylan, Mia memandang Alex sekilas dan bertanya ragu, “Jadi... apa yang kau beli?”

             Alex menunjukkan CD-CD yang dipegangnya. Kebanyakan CD musik klasik.

             Mia menunjuk salah satu CD yang memiliki tulisan bahasa Jepang. “Lagu Jepang?” tanyanya.

             “Pianis Jepang,” sahut Alex. “Kurasa kau tidak mengenalnya.”

             Mia menggeleng. “Kau bisa membaca tulisan Jepang?”

             “Tentu saja.”

             “Benar juga,” gumam Mia. “Ray pernah bilang dia diharuskan mempelajari bahasa Jepang sejak kecil, walaupun kalian berbicara dalam bahasa Inggris.”

             Alex mengangguk. “Apa bahasa ibumu?”

             Mia ragu sejenak, yang membuat Alex heran, lalu berkata pendek, “Bahasa Inggris.”

             “Maksudku...”

             “Aku tahu maksud pertanyaanmu,” sela Mia. Lalu ia mengangkat bahu dan berkata, “Aku diadopsi dan aku tidak tahu dari mana asalku sebenarnya. Begitulah.”

             Alex terdiam.

             Mia menyunggingkan senyumnya yang biasa. “Jadi bahasa ibuku bahasa Inggris.”

             Tepat pada saat itu Dylan kembali dengan CD Alex dan spidol. Alex pun menandatangani buklet yang ada di dalam kotak CD dan dengan enggan menyetujui permintaan Dylan untuk foto bersama. Mia yang diminta menjadi fotografer dadakan.

             “Dia meminta berfoto denganku padahal keadaanku seperti ini,” gerutu Alex ketika ia dan Mia keluar dari toko musik.

             Mia tertawa. “Tenang saja. Aku sudah memastikan tanganmu tidak terlihat,” katanya.

             “Terima kasih,” kata Alex, masih dengan nada menggerutu.

             Alex berhenti di samping mobil di bagian penumpang dan mengamati Mia mengelilingi mobil ke arah pintu pengemudi. “Omong-omong, Clark,” katanya.

             Mia membuka pintu dan mendongak. “Ya?”

             Alex ragu apakah ia perlu mengatakannya atau tidak, apakah ia akan terlihat aneh kalau mengatakannya, tetapi akhirnya ia berkata, “Kurasa kau mirip orang Jepang.”

             Awalnya Mia terlihat tidak mengerti, lalu perlahan-lahan senyumnya mengembang.

“Sebenarnya aku tidak merasa seperti itu,” katanya sambil memiringkan kepala sedikit, “Tapi terima kasih.”



***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar