Kamis, 06 November 2014

IF I STAY - BAB 3

09. 23

APAKAH aku sudah mati?
Aku sungguh-sungguh perlu menanyakan itu pada diriku.

Apakah aku sudah mati?

Mula-mula sepertinya jelas sekali aku memang sudah mati. Bahwa berdiri-menyaksikan-semuanya-di-sini hanyalah sementara, jeda sebelum cahaya terang dan kejadian-kejadian-masa-lalu-melesat-di-depan-mataku itu berlangsung, membawaku ke tempat apa pun yang menjadi tujuanku kemudian.

Tetapi para paramedis ada di sini sekarang, bersama polisi dan pemadam kebakaran. Ada yang menutupi tubuh ayahku dengan kain. Dan petugas pemadam kebakaran menarik ritsleting kantong mayat tempat Mom diletakkan. Aku mendengar lelaki itu berdiskusi tentang Mom dengan pemadam kebakaran lain, yang tampaknya berusia tidak lebih dari delapan belas tahun. Lelaki yang lebih tua menjelaskan kepada si petugas baru bahwa Mom mungkin yang pertama terkena benturan dan tewas seketika, itulah sebabnya tidak ada banyak darah. “Jantungnya berhenti berdetak seketika,” katanya. “Ketika jantungmu tidak bisa memompa, darah tidak keluar. Darahmu hanya merembes.”

Aku tidak bisa memikirkan itu, memikirkan darah Mom merembes. Maka aku berpikir betapa itu khas Mom, bahwa Mom terhantam lebih dulu, bahwa dialah yang menahan kami dari benturan. Jelas itu bukan pilihannya, tapi memang seperti itulah Mom.

Tapi apakah aku sudah mati? Aku yang tergeletak di tepi jalan, kakiku tergantung ke dalam parit, dikelilingi sekelompok lelaki dan perempuan yang melakukan berbagai tindakan kalut padaku dan menusuk-nusuk nadiku dengan entah apa. Aku setengah telanjang, anggota paramedis merobek bagian atas kausku. Sebelah payudaraku kelihatan. Karena malu, aku memalingkan wajah.

Polisi menyalakan suar darurat di sekeliling lokasi kecelakaan dan menginstruksikan mobil-mobil dari kedua arah untuk memutar balik, jalan ditutup. Dengan sopan polisi menawarkan rute alternatif, jalan kecil yang akan membawa orang-orang ke tujuan.

Mereka pasti memiliki tujuan masing-masing, orang-orang di mobil-mobil itu, tapi banyak di antara mereka tidak berputar balik. Mereka keluar dari mobil, memeluk diri sendiri melawan dingin. Mereka mengamati lokasi kejadian. Kemudian mereka membuang muka, beberapa di antaranya menangis, seorang wanita muntah ke semak-semak di pinggir jalan. Dan meski tidak mengenal kami atau tahu apa yang terjadi, mereka berdoa untuk kami. Aku bisa merasakan mereka berdoa.


Yang juga membuatku berpikir bahwa aku sudah mati. Itu, dan kenyataan bahwa sepertinya tubuhku mati rasa total, meski jika melihat keadaanku, kakiku yang terparut aspal dengan kecepatan seratus kilometer per jam sampai tulangku kelihatan, seharusnya aku sangat kesakitan. Dan aku juga tidak menangis, meski aku tahu sesuatu yang mengerikan terjadi pada keluargaku. Kami seperti Humpty Dumpty, dan semua kuda serta prajurit raja tidak akan mampu menyatukan tubuh kami lagi.

Aku sedang merenungkan ini ketika paramedis dengan wajah berbintik-bintik dan rambut merah yang mengurusi tubuhku menjawab pertanyaanku. “Glasgow Coma-nya delapan. Bawa dia sekarang!” perempuan itu berteriak.

Dia dan paramedis lelaki berdagu panjang memasukkan slang ke tenggorokanku, memasangkan kantong berpompa di sana, dan mulai memompa. “Berapa lama perkiraan waktu Life Flight sampai ke sini?”

“Sepuluh menit,” jawab si paramedis. “Butuh dua puluh menit untuk kembali ke kota.”

“Kita akan membawanya ke sana dalam lima belas menit meski kau harus mengemudi seperti setan.”


Aku bisa merasakan apa yang ada dalam pikiran si paramedis lelaki. Tidak ada gunanya bagiku jika mereka juga mengalami kecelakaan, dan aku setuju dengannya. Tapi dia tidak mengucapkan apa-apa. Hanya mengeraskan rahang. Mereka memasukkanku ke ambulans; si rambut merah naik ke belakang bersamaku. Dia memompa kantong dengan satu tangan, memasang infus dan monitor dengan tangan satunya. Kemudian dia menyibakkan sejumput rambut dari dahiku.

“Bertahanlah,” katanya.


***

Aku melakukan resital pertamaku ketika berusia sepuluh tahun. Saat itu aku sudah bermain cello selama dua tahun. Mulanya hanya di sekolah, sebagai bagian program musik. Rasanya ajaib bahwa mereka bahkan memiliki cello; instrumen itu sangat mahal dan rentan. Tapi profesor sastra yang sudah tua di universitas meninggal dunia dan mewariskan Hamburg-nya pada sekolah kami. Biasanya cello itu hanya menganggur di pojok ruangan. Sebagian besar murid ingin belajar main gitar atau saksofon.

Ketika aku memberitahu Mom dan Dad bahwa aku ingin menjadi pemain cello, mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Mereka kemudian meminta maaf, beralasan bahwa lucu sekali membayangkan aku yang mungil ini memainkan instrumen raksasa di antara kedua kaki kurusku. Begitu sadar aku serius, mereka segera menelan tawa dan menunjukkan tampang mendukung.

Tapi reaksi mereka masih menyakiti hatiku—dengan cara yang tak pernah kuceritakan pada mereka, dan dalam cara yang aku tidak yakin akan mereka mengerti bahkan jika kuceritakan. Kadang-kadang Dad bercanda aku pasti tertukar di rumah sakit tempatku dilahirkan, karena aku sama sekali tidak mirip keluargaku. Mereka semua berambut pirang dan berkulit putih sementara aku kebalikannya, rambut cokelat dan mata gelap. Tapi ketika aku makin besar, kelakar Dad tentang rumah sakit itu berefek lebih serius daripada yang diniatkannya. Kadang-kadang aku memang merasa berasal dari suku lain. Aku tidak seperti Dad yang terbuka dan sedikit sinis, atau Mom yang wanita perkasa. Dan seakan tidak ingin tanggung-tanggung, bukannya belajar main gitar listrik aku malah memilih cello.


Tapi dalam keluargaku, main musik tetaplah masih lebih penting daripada tipe musik yang kaupilih, maka beberapa bulan kemudian, setelah terlihat jelas bahwa cintaku terhadap cello bukan hanya angin-anginan, orangtuaku menyewakanku cello sehingga aku bisa berlatih di rumah. Jalinan not dan paduan nada yang berantakan mengawali percobaan memainkan Twinkle Twinkle Little Star yang akhirnya meningkat menjadi étude dasar sampai aku mampu memainkan suite Bach. Program musik di SMP-ku tidak banyak, maka Mom mencari guru privat untukku, mahasiswa yang datang seminggu sekali. Selama bertahun-tahun kemudian aku diajar banyak mahasiswa, kemudian, ketika kemahiranku sudah melebihi mereka, guru-guruku bermain bersamaku.

Hal ini berlangsung sampai aku kelas sembilan, waktu Dad, yang mengenal Profesor Christie semasa Dad masih bekerja di toko musik, bertanya apakah wanita itu mau memberiku pelajaran privat. Profesor Christie setuju untuk mendengar aku bermain, tidak terlalu berharap, hanya ingin membantu Dad, belakangan wanita itu berkata kepadaku. Dia dan Dad mendengarkan dari lantai bawah sementara aku berada di kamarku di atas, berlatih sonata Vivaldi. Ketika aku turun untuk makan malam, Profesor Christie menawarkan diri untuk mengambil alih pelatihanku.

Tetapi resital pertamaku terjadi bertahun-tahun sebelum aku bertemu dengannya. Resital itu diadakan di aula kota, tempat biasanya diadakan pertunjukan band lokal, jadi akustiknya jelek sekali untuk musik klasik tanpa amplifier. Aku memainkan solo cello dari Dance of the Sugar Plum Fairy karya Tchaikovsky.

Saat berdiri di belakang panggung, mendengarkan anak-anak lain memainkan biola dengan mendecit dan piano dengan tersendat-sendat, aku ketakutan. Aku berlari keluar dari pintu panggung dan berjongkok di serambi luar, mengembuskan dan menarik napas dengan cepat ke tangkupan tanganku. Guru mahasiswaku menjadi agak panik dan menyuruh orang-orang mencariku.

Dad menemukanku. Dia baru saja mulai berubah dari hippie menjadi bergaya, jadi dia mengenakan setelan jas model lama, dengan sabuk berpaku dan sepatu bot hitam pendek.


“Kau tidak apa-apa, Mia Oh-My-Uh?” dia bertanya, duduk di undakan bersamaku.

Aku menggeleng, terlalu malu untuk bicara.


“Ada apa?”

“Aku tidak bisa!” pekikku.

Dad mengangkat sebelah alisnya yang tebal dan menatapku dengan matanya yang biru kelabu. Aku merasa seperti spesimen asing misterius yang sedang dipelajari dan ingin dimengertinya. Dad main band seumur hidupnya. Jelas saja dia tidak pernah mengalami hal sememalukan demam panggung begini.

“Yah, sayang sekali,” kata Dad. “Aku sudah menyiapkan hadiah keren untuk resitalmu. Lebih bagus daripada bunga.”


Berikan saja kepada orang lain. Aku tidak bisa naik ke panggung. Aku tidak seperti Dad atau Mom, atau bahkan Teddy.” Saat itu Teddy baru berusia enam bulan, tapi sudah jelas terlihat anak itu memiliki karakter lebih kuat, dan semangat lebih besar, daripada aku. Dan tentu saja, dia berambut pirang dan bermata biru. Bahkan jika tidak pun, dia dilahirkan dengan bantuan bidan, bukan di rumah sakit, jadi tidak ada kemungkinan tertukar.

“Benar,” Dad berkata setengah melamun. “Ketika Teddy pertama kali konser harpa, dia setenang mentimun. Anak ajaib.”

Aku tertawa sambil menangis. Dad melingkarkan lengannya dengan lembut pada bahuku. 

“Kau tahu, dulu aku selalu ketakutan setengah mati sebelum pertunjukan.”

Aku menatap Dad, yang tampaknya selalu yakin tentang segala hal di dunia. “Dad cuma berkata begitu untuk menghiburku.”

Dad menggeleng. “Tidak, sungguh. Demam panggungku parah sekali. Padahal aku pemain drum, duduk jauh di belakang. Bahkan tidak ada yang memperhatikanku.”

“Jadi apa yang Dad lakukan?” tanyaku.

“Dia mabuk,” Mom menyela, melongokkan kepala dari pintu panggung. Mom mengenakan rok mini vinyl, atasan tanpa lengan berwarna merah, dan Teddy, berlumuran liur dengan gembira di gendongan Baby Björn. “Dua botol besar minuman beralkohol sebelum pertunjukan. Aku tidak merekomendasikan itu untukmu.”

“Ibumu mungkin benar,” kata Dad. “Dinas sosial tidak suka melihat anak sepuluh tahun yang mabuk. Lagi pula, kalau aku menjatuhkan stik drumku dan muntah di panggung, itu keren. Kalau kau menjatuhkan busur dan berbau pabrik bir, akan menjijikkan. Kalian penyuka musik klasik memang sok.”


Sekarang aku tertawa. Aku masih takut, tapi entah mengapa rasanya menenangkan berpikir bahwa demam panggung hanyalah sesuatu yang kuwarisi dari Dad; ternyata aku bukan anak pungut.

“Bagaimana kalau aku mengacaukannya? Bagaimana kalau permainanku jelek sekali?”


“Aku punya berita untukmu, Mia. Akan ada banyak sekali permainan jelek di sana, jadi kau takkan mencolok,” kata Mom. Teddy memekik setuju.

“Tapi serius, bagaimana Dad mengatasi demam panggung?”

Dad masih tersenyum tapi aku tahu dia berubah menjadi serius karena bicaranya dilambatkan. “Kau tidak mengatasinya. Kau hanya perlu melaluinya. Kau bertahan.”


Maka aku melaluinya. Aku tidak memainkan musikku dengan gemilang. Aku tidak mendapatkan pujian setinggi langit atau sampai membuat penonton bertepuk tangan sambil berdiri, tapi aku juga tidak mengacau. Dan setelah resital, aku mendapatkan hadiahku. Benda itu duduk di bangku penumpang mobil, tampak sama bernyawanya seperti cello yang menarik perhatianku dua tahun sebelumnya. Tapi ini bukan sewaan. Cello ini milikku.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar